Aku adalah aku

Kenyataan terpahit dalam sebuah percintaan

Kisah terpahit dalam sebuah percintaan, pahitnya cinta seakan tak akan pernah terasa bagi mereka yang sedang di mabuk asmara, pahitnya cinta seakan adalah resep bumbu dalam sebuah kisah percintaan, dan dengan penuh semangat akan bersama – sama berjuang untuk melewati sebuah pahitnya cinta tersebut.

Di awali dari sebuah tatapan mata yang tajam pertemuan singkat, berlanjut dengan sapaan hangat yang akan meneruskan ke dalam obrolan panas, dan tentunya tanpa melupakan tujuan utama. Semua akan terlihat baik – baik saja dan selalu aman, bahkan dalam kondisi darurat sekalipun.

Ku beri ini kau terima itu, ku lari untuk mengejarmu namun kau masih berdiam diri saja disana, dan seakan aku sedang berlari di tempat. Tujuan yang ingin kucapai yaitu dirimu seakan trus jalan searah dengan jalur lariku.

Ini hanya sebuah proses, dan membutuhkan waktu, saut hati kecil ini.

Benar saja, waktupun menjawab dan seakan kecepatan lariku semakin pelan karena ku tahu tujuanku sudah semakin dekat, yaitu dirimu. Inilah waktu yang kutunggu, waktu yang akan mengisi hari – hariku kedepan, yang membuatku merasa waktu sangat cepat berlalu dan ingin kuhentikan waktu ini agar aku bisa menikmati waktu ini semakin lama.

Berlanjut seiring berjalan waktu, kian dekat dan semakin dekat hingga tak ada apapun yang dapat menghalangi. Inilah puncak dari sebuah perjuangan, ketenangan, kedamaian, semangat menggelora dapat di dapatkan pada waktu ini. Dan perlu di ingat, karena semua puncak itu hanya satu titik dan benar saja, berlanjut dari sebuah puncak terjadilah sebuah percecokan.

Namun tak jadi masalah karena ini hanya sebuah “Resep Bumbu” dalam sebuah percintaan, dan pahitnya cinta akan dilalui bersama, berjuang bersama, dan berkorban bersama. Ber keyakinan karena tidak ada jalan yang lurus, dan pasti setelah lembah ini dilewati akan ada sebuah puncak lagi ataupun sebuah pemandangan lain yang indah. Dengan berpedoman “Angin pasti berlalu”

Iya benar saja, berlanjut demikian setiap waktu, puncak lembah puncak lembah hingga tak ada habis cerita tersebut. Namun tahukan? Pahitnya cinta yang sebenarnya bukan itu.

Kenyataan terpahit dalam sebuah percintaan adalah “Ketika kita harus melepaskan orang yang kita cinta, walapun kita yakin sudah merelakan”

Karena kita tahu, kita tak bisa membuat skenario hidup sendiri, kita ada yang mengatur. So.. se erat apapun, selama apapun, se romantis apapun sebuah hubungan, jika Tuhan telah berkata “Dia bukan milikmu” lalu apa yang bisa kita perbuat? Walaupun kita tahu semua perlu di perjuangkan, lantas apakah ini yang namanya perjuangan berakhir sia – sia? Tentu tidak, Tuhan mengetahui lebih dari apa yang kita ketahui, yang sekarang milikmu mungkin itu akan menjadi lebih baik, lebih berguna, lebih pantas untuk orang lain. Sedangkan kamu pantas untuk mendapat yang lebih dari apa yang kamu miliki sekarang, karena itu sudah pasti.

Sekian.